” Coaching ” Anak Buah Bukanlah Cuma Pekerjaan Staf HRD

0
1283

Business team walking forward - leadership and teamwork concepts using a group of businessmen and businesswomen isolated over a white backgroundSeseorang rekan, dikunjungi oleh ” career coach ” dari kantor pusatnya diluar negeri. Mereka bercakap tentang masa depan karir yang terkait. Di ujung diskusi, rekan saya menyebutkan suatu hal yang bikin sang coach terperangah. Saat sang coach bertanya apa yang diperlukan oleh rekan saya untuk mensupport karirnya, ia meminta agar salah satu anak buahnya di perhatikan. Rekan saya dengan serius menyampaikan : “Karyawan ini mesti dikembangkan”.

Ia bahkan juga “separuh mengancam” serta berikan argumen bahwa bila anak buahnya itu tak di perhatikan, maka perusahaan tak dapat memperoleh faedah dari si karyawan ini. Kenapa sang coach demikian surprise? Ia menyampaikan bahwa di semua organisasi, baru kali ini ia mendengar ada orang yg tidak memikirkan dirinya sendiri saja, namun juga anak buahnya.

Kita pasti bertanya-tanya, apakah tanda-tanda kurangnya concern atasan ke anak buah ini telah menjadi umum? Inikah pemicu kelangkaan tumbuhnya pemimpin? Walau sebenarnya, kita ketahui persis ungkapan : “Orang cuma dapat berkembang jadi leader, bila dia dapat serta sukses meningkatkan anak buahnya”. Ini bermakna bukan sekedar pengembangan diri anak buah yg tidak tersentuh, tetapi beberapa atasan ini sendiri juga tak berkembang menjadi pimpinan yang efisien.

Banyak kita mendengar petinggi atau pimpinan yang telah terlampau sibuk hingga pengembangan anak buah serta sumber daya manusia di sekelilingnya seolah bukan urusannya. “Terlalu banyak substansi lain yang perlu diurus. Biarlah pengembangan bawahan diurus oleh ‘ahlinya’”.

Ya, banyak orang lepas tangan serta berasumsi ini yaitu tugas serta tanggung jawab divisi sumber daya manusia, tidak termasuk dalam job description sebagai pimpinan. Bukankah jarang kita mendengar petinggi tinggi lakukan mentoring atau coaching, dan dengan cara segera melakukan perbaikan kekeliruan serta mengarahkan bawahan yang dilaksanakan dengan konsentrasi untuk pengembangan bawahan? Apakah substansi bisnis, politik, proyek yang demikian kompleksnya, mengakibatkan minat pada perkembangan anak buah sebagai aset paling utama ini tersisihkan?

Memang kita dapat menyaksikan satu-dua leader akan tumbuh sendiri lewat cara yg tidak disadari organisasi, tetapi bukan product organisasi yang benar-benar punya niat membuat leaders secara massal. Bukankah kurang tumbuhnya penerus yang “kuat” di hari esok dipandang sebagai ancaman yang serius?

“Bermain Manusia”

Sumber kekeliruan kita, apabila kita mengeluh perihal langkanya kepemimpinan, yaitu lantaran kita sendiri kurang banyak berkeinginan pada pengembangan manusia. Walau dalam sehari-harinya kita berkomunikasi, bergaul, berempati, tetapi seberapa jauh kita siap untuk mengerjakan perubahan atau pengembangan orang lain? Apakah kita benar-benar berkeinginan serta runtuk mengkotak-katik mindset-nya, habit-nya, ke- ” bisa ” -annya, sikapnya, mimpinya, hingga anak buah benar-benar memiliki peluang untuk maju?

Kita lihat sekarang ini banyak perusahaan meningkatkan penilaian kemampuan on-line, dimana seluruhnya analisis, penghargaan, pujian, maupun teguran dikerjakan oleh pimpinan pada anak buahnya dengan cara tercatat. Hal semacam ini memanglah efektif, namun pertanyaannya, apakah kita cukup memiliki feel pada anak buah, mendeteksi potensi serta kompetensinya, mencatat perubahan serta aspirasinya, apabila tak bicara dari hati ke hati? Walau sebenarnya kita seluruhnya tahu bahwa apabila ada kesenjangan interaksi hati antara atasan serta bawahan, tidak mungkin kita dapat melahirkan bibit-bibit leader yang baru dengan cara produktif.

Membina bawahan sesungguhnya tak jauh berbeda dengan membina pemain sepakbola. Pertama-tama, kita butuh memandangnya juga sebagai satu fenomena yang mengasyikkan. Bagaimanakah tak? Ada praktik, ada standard, harapan, serta agenda yang berlainan di tiap-tiap individu. Permainan ini pasti melibatkan friksi, miskomunikasi, serta pembinaan rasa percaya. Hanya dengan penguasaan ini, anggota tim bakal rasakan passion serta lepas dari sense of duty yang berat.

Kita kerap mendengar argumen seorang keluar dari tempat kerjanya lantaran kondisi tak fun lagi. “Fun” seperti inilah yang butuh di ciptakan seseorang bermental coach di lingkungan kerjanya. Individu dalam grup butuh merasakan bahwa ia dituntut untuk jadi ” a better player ” yang memerlukan kemampuan problem solving, berkompetisi, serta membuat hasil yang memuaskan. Baru dalam kondisi inilah, seseorang anggota tim bakal merelakan waktu luangnya untuk kerjakan pe-ernya untuk penguatan sikap kerja serta kwalitas kerja yang tambah baik.

Think : Journey

Kemampuan mental seorang yang mempunyai ketrampilan coaching yaitu kemampuannya melatih bawahan atau anggota timnya untuk menghindari distraksi, penolakan, kelelahan, serta berkonsentrasi untuk memperpanjang nafas dalam lakukan pekerjaan.

Di sinilah jam terbang seseorang pemimpin berperan lantaran bakal lebih gampang baginya untuk menunjukkan pada bawahan bahwa ketangguhan bakal jadi jawaban atas keberhasilan bawahan. Seseorang bermental coach tahu langkah mengikuti individu saat bertransisi dari satu kondisi lama ke baru. Ia butuh mengikuti anak buahnya saat meng-”oper gigi” dalam berkinerja. Ia juga butuh mengajari time awareness pada anak buahnya, baik awareness yang diukur dengan stopwatch, ataupun kalender.

Hal yang juga sangatlah utama dalam coaching yaitu kemampuan mengajarkan pada anak buah bagaimanakah menanggapi keberhasilan serta kegagalan. Bawahan mesti tahu bahwa karirnya adalah perjuangan, karenanya ketangguhan untuk hadapi pasang-surutlah yang perlu dipompakan kepadanya. Sebenarnya prinsip dalam menuntun anak buah sederhana saja : “They good, you care. They bad, you care. They fall, you‘re there. ”

Orang yang mempunyai passion pada manusia serta rajin dalam menuntun orang lain untuk maju, jarang sekali kita saksikan meninggalkan tim atau menikmati hari tua dengan bersedih. Ia pasti terpuaskan melihat hasil bimbingannya, terlebih bila sukses turunkan keterampilan, pengetahuan, serta menyaksikan anak buah jadi lebih canggih dalam ” bermain ” serta ber ” taktik “. Tidakkah kehidupan ini memanglah memiliki karakter suksesif? Bukankah kita mau meninggalkan hidup serta dikenang juga sebagai legenda lantaran kesuksesan mensukseskan orang lain?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here