MENGENAL PEMETAAN SOSIAL, PANDUAN AWAL BAGI PRAKTISI CSR DARI AMERTA

0
91
Pemetaan Sosial, praktek csr, metode pemetaan sosial, Community Development, Comdev

Perkembangan dunia usaha yang semakin maju disertai dengan dukungan regulasi dan tuntutan masyarakat menyebabkan semakin banyak upaya dari perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya tersebut lazimnya diberi label Corporate Social Responsibility (CSR) dan diwujudkan dalam bentuk kegiatan atau program Community Development (Comdev). Program atau kegiatan Comdev ini seringkali menghabiskan dana yang tidak kecil jumlahnya namun tidak memberikan hasil yang memuaskan atau bahkan mengalami kegagalan di dalam memberdayakan masyarakat. Comdev ini pada umumnya diawali dengan melakukan pemetaan sosial.

Banyak faktor yang menjadi penyebab dari kegagalan yang terjadi, namun salah satu faktor yang utama adalah karena banyak kegiatan atau program Comdev ini tidak diawali dengan pemetaan sosial. Program atau kegiatan Comdev lebih sering dilaksanakan sesuai dengan keinginan pemilik program atau meniru kegiatan/program dari tempat lain yang dianggap menarik atau berhasil, bukan berdasarkan kebutuhan atau potensi dari para penerima manfaat. Akibat yang ditimbulkan dari pendekatan seperti itu adalah program atau kegiatan yang dilaksanakan gagal memberdayakan masyarakat atau tidak tepat sasaran.

Artikel Menarik Lain: 

AMERTA Gelar Lokakarya Penyusunan Rencana Induk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RI PPM) bagi Praktisi Comdev

Untuk menghindari terjadinya kegagalan sebuah kegiatan atau program pemberdayaan masyarakat, perlu dilaksanakan pemetaan sosial sebelum menyusun program/kegiatan yang akan dilaksanakan.

A. Definisi Pemetaan Sosial

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pemetaan sosial, ada baiknya kita memahami dulu apa yang dimaksud dengan pemetaan sosial. Tabel di bawah ini merupakan pendapat beberapa ahli mengenai pemetaan sosial:

Twelvetrees (1991) Proses pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka dengan melakukan aksi kolektif
Robert Chamber (1992) Proses pengumpulan dan penggambaran data dan informasi, termasuk potensi, kebutuhan dan permasalahan (sosial, ekonomi, infrastruktur dan kelembagaan) masyarakat
Dody Prayogo (1992) Upaya mengidentifikasi dan memahami struktur sosial (sistem kelembagaan dan individu), tata hubungan antar Lembaga dan atau individu pada lingkungan sosial tertentu. Identifikasi kelembagaan dan individu ini dilakukan secara akademik melalui suatu penelitian lapangan, yakni dengan mengumpulkan data secara langsung, menginterpretasikannya dan menetapkan tata hubungan antara satu dengan lain satuan sosial dalam Kawasan komunitas yang diteliti.
Rudito dan Pamiola (2008) Usaha untuk menggambarkan, mendeskripsikan, mengidentifikasikan norma-norma, moral, nilai dan aturan yang digunakan oleh manusia sebagai anggota masyarakat untuk mengatur hubungan interaksi yang terjadi di dalamnya. Usaha untuk melakukan pemetaan sosial ini dapat dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif.

 

B. Pendekatan Pemetaan Sosial

Di dalam melaksanakan pemetaan sosial, ada 2 (dua) pendekatan yang bisa digunakan. Pendekatan tersebut berupa pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset. Berikut ini merupakan karakteristik dari 2 (dua) pendekatan pemetaan sosial tersebut:

 

PENDEKATAN BERBASIS MASALAH PENDEKATAN BERBASIS ASET
Fokus pada masalah Fokus pada aset dan kekuatan
Berkutat pada masalah utama Membayangkan masa depan
Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan. Selalu bertanya-tanya apa yang kurang Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut
Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan) agar lebih berdaya guna

 

Kedua pendekatan ini memiliki jalan yang berbeda namun pada prinsipnya berujung pada 1 (satu) tujuan yang sama yakni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perbedaan utama dari kedua pendekatan ini terletak pada data/informasi yang ingin diperoleh. Pendekatan berbasis masalah ingin mengidentifikasi masalah-masalah apa saja yang dialami oleh masyarakat; masalah apa yang menjadi prioritas serta apa yang menjadi akar dari permasalahan tersebut. Pendekatan ini membuat masyarakat mengidentifikasi semua faktor yang menjadi masalah dalam penghidupannya sehingga seringkali dengan banyaknya masalah yang teridentifikasi menimbulkan perasaan tidak berdaya dan masyarakat merasa serba berkekurangan.

pemetaan sosial, Praktek CSR, Community Development, Comdev

Apalagi jika kemudian setelah menguraikan masalah tersebut, akar dari permasalahan bersumber dari hal-hal yang jauh dari jangkauan masyarakat misalnya berupa kebijakan yang levelnya nasional. Pendekatan berbasis masalah juga seringkali mengakibatkan perpecahan di masyarakat. Setiap individu atau kelompok masyarakat bersaing agar masalah yang dihadapinyalah yang harus diprioritaskan untuk diselesaikan. Masing-masing merasa bahwa dengan menyelesaikan masalah tersebut maka situasi akan menjadi lebih baik tanpa mempertimbangkan apakah hal itu juga merupakan solusi bagi individu atau kelompok masyarakat yang lain.

Berbeda dengan pendekatan berbasis masalah, pendekatan berbasis aset lebih berfokus pada menemu kenali potensi dan kekuatan yang dimiliki, baik oleh individu maupun kelompok masyarakat. Dengan demikian maka kompetisi yang ditimbulkan oleh pendekatan berbasis masalah berubah menjadi kolaborasi atas aset dan potensi serta kekuatan yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Dengan mengorganisasikan segenap potensi dan aset yang dimiliki maka masyarakat akan menjadi lebih berdaya dan tidak bergantung pada intervensi dari pihak luar.

C. Aset Penghidupan Berkelanjutan

Pendekatan berbasis aset mengidentifikasi aset atau potensi utama apa saja yang dimiliki oleh individu atau kelompok masyarakat yang terdiri dari aset manusia; aset alam; aset keuangan; aset fisik dan aset sosial. Kelima aset ini lebih dikenal dengan Pentagonal Asset (DFID, 1999).

Kelima aset tersebut yaitu:

  1. Aset manusia yaitu, yang pertama dan terpenting adalah pekerjaan, kemudian juga keterampilan, pengalaman, pengetahuan, dan kreativitas.
  2. Aset alam yaitu, sumber daya seperti tanah, air, hutan, dan padang rumput serta mineral.
  3. Aset fisik yaitu, rumah, alat dan mesin, stok pangan atau ternak, perhiasan dan peralatan produksi
  4. Aset finansial yaitu, uang dalam bentuk tunai atau tabungan, dan pinjaman/kredit.
  5. Aset sosial yaitu, yang menunjuk pada kualitas hubungan antara orang-orang, misalnya berupa kegotong-royongan maupun kesukarelawanan sosial.

Ketersediaan, akses dan kualitas dari tiap aset sangat mungkin akan berbeda-beda pada tiap individu, keluarga, kelompok masyarakat maupun wilayah, sehingga ketika dilakukan pengukuran dan kemudian dipetakan dalam bentuk diagram pentagon maka bentuknya akan menjadi berbeda pula.

D. Metode Pemetaan Sosial

Menurut Bank Dunia (2002), ada 3 (tiga) metode pemetaan sosial yakni:

  1. Survei Formal: mengumpulkan informasi standar dari sampel orang atau rumah tangga
  2. Rapid Appraisal: mengumpulkan informasi mengenai pandangan dan masukan dari populasi sasaran dan stakeholder lainnya mengenai kondisi geografis, sosial dan ekonomi secara cepat.
  3. Participatory Appraisal: pengumpulan data yang melibatkan kerja sama aktif antara pengumpul data dan responden. Pertanyaan tidak dirancang secara baku melainkan hanya garis besarnya saja. Topik pertanyaan dapat berkembang berdasarkan proses tanya jawab dengan responden

E. Tahapan Pelaksanaan Pemetaan Sosial

Dalam melaksanakan pemetaan sosial ada beberapa tahapan yang harus dilalui yakni:

  1. Menetapkan tujuan

Sebelum melaksanakan pemetaan sosial, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa tujuan dari pemetaan sosial ini. Apakah pemetaan sosial yang akan dilaksanakan dalam rangka penyusunan program Comdev, melaksanakan stakeholder engagement, untuk kepentingan Risk Management, untuk menyusun kebijakan, atau tujuan lain. Hal ini penting untuk dilakukan sebab tujuan yang berbeda akan menentukan penekanan , fokus serta bobot dari setiap data yang akan kita ambil.

2. Menentukan lokasi dan jangkauan

Letak lokasi dan seberapa luas jangkauan yang akan dicapai dari pemetaan sosial juga harus dinyatakan secara jelas sebelum kegiatan pemetaan sosial dilaksanakan. Hal ini untuk mengantisipasi berbagai macam skenario yang mungkin terjadi terkait kondisi medan, akses, akomodasi, fasilitas, dll.

3. Menyusun tim

Jumlah anggota tim yang dibutuhkan serta kriteria dari anggota tim disesuaikan dengan jumlah dan luasan serta kondisi lokasi sasaran

4. Memilih strategi

Strategi dan metode yang akan digunakan menyesuaikan dengan lokasi, jangkauan serta anggota tim yang dipersiapkan.

Tahapan kedua, ketiga dan keempat dapat dilaksanakan secara simultan sebab masing-masing tahap saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

5. Melaksanakan studi literatur

Melakukan studi literatur dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi dan karakteristik wilayah dan masyarakat yang akan dipetakan. Alat bantu untuk melakukan studi literatur dapat menggunakan data BPS, artikel atau berita, penelitian lain yang relevan, dll

6. Menyusun instrumen

Berdasarkan tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya serta studi literatur yang sudah dilaksanakan kita dapat menyusun instrumen berupa pertanyaan-pertanyaan kunci baik pertanyaan terbuka atau tertutup sesuai dengan kebutuhan data yang ingin diperoleh

7. Melaksanakan pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan berdasarkan instrumen yang sudah disusun dan sesuai rute yang sudah ditentukan sebelumnya. Pengumpulan data dapat menggunakan salah satu atau kombinasi dari beberapa metode seperti observasi, FGD, wawancara terstruktur, wawancara mendalam, transect walk, dll

8. Melakukan Analisa dan penulisan laporan

Data yang telah dikumpulkan dan melewati proses triangulasi diolah agar tersusun rapi dan sederhana kemudian dianalisis untuk memperoleh kesimpulan dari hasil yang diperoleh. Hasil analisis tersebut dituliskan dalam bentuk laporan yang sesuai dengan kaidah penulisan serta dalam format yang disepakati.

9. Presentasi dan sosialisasi hasil pemetaan sosial

Laporan hasil pemetaan sosial yang telah selesai disusun, dipresentasikan kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan serta disosialisasikan kepada pembuat kebijakan atau yang memiliki kapasitas untuk mempercepat proses pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here